Demi Perjuangkan Nasib Dosen SK Yayasan, sang ‘Pangeran Pendidikan’ Ingin Wujudkan Mimpi dari Ruang Parlemen

Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat Sumut, Pangeran ingin perjuangkan nasib dosen SK Yayasan. (Foto : Muhammad Rajab)

POJOKPOLITIK.COM- 'Pangeran Pendidikan' layak disematkan kepadanya. Sesuai namanya Pangeran, dirinya begitu mencintai dunia pendididikan.

Bagaimana tidak, hampir separuh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk mengenyam pendidikan.

Dari tingkat sekolah dasar hingga gelar S2 telah dilalui. Bahkan, hingga kini dirinya pun masih menjalani proses pendidikan S3 bidang Ilmu Manajemen di Universitas Prima Indonesia (UNPRI).

Namun ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikirannya. Pangeran mengaku miris melihat kondisi dunia pendidikan saat ini terutama lingkup pengajar di perguruan tinggi swasta.

Sebagai dosen SK Yayasan (Dosen Swasta), Pangeran melihat para dosen di kampus jauh dari kata sejahtera.

Besarnya jasa dosen sebagai pencetak generasi bangsa tak sebanding dengan upah yang diterimanya.

Untuk itulah, Pangeran bertekad bisa berjuang memperbaiki nasib para dosen SK Yayasan dengan aturan yang jelas.

"Saat ini tidak ada aturan yang jelas dan khusus mengenai standar upah bagi dosen SK Yayasan dalam peraturan Undang Undang. Untuk itu, perlu langkah nyata dengan mengajukan Perda yang mengatur hal tersebut kepada pemerintah Provinsi Sumatera Utara," ujarnya.

"Sehingga ke depan nantinya, Yayasan akan memiliki payung hukum dalam menentukan upah para dosen berstatus SK Yayasan, dan derajad kehidupan dosen bisa terangkat ," tutur Pangeran melanjutkan.

Apalagi saat ini, Pangeran menilai pemerintah provinsi masih kurang memperhatikan nasib dosen karena tidak adanya peraturan daerah yang mengatur hal itu.

Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat Sumut, Pangeran ingin perjuangkan nasib dosen SK Yayasan. (Foto : Muhammad Rajab)

Untuk itulah, pria yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Partai Demokrat ini ingin berjuang mewujudkannya melalui lembaga eksekutif.

Dan Dapil Sumut 3 (Deliserdang) menjadi pilihan sebagai langkah perjuangannya. Sehingga, saat dirinya nanti masuk dalam parlemen ada perubahan ke arah perbaikan yang bisa dilakukan.

"Menjadi anggota dewan itu bukan cuma gaya-gayaan. Ada misi yang harus diperjuangkan. Bukannya mengabaikan kepentingan lain, tapi karena saya berangkat sebagai dosen dan merasakan bagaimana mirisnya nasib dosen terkhusus di Sumatera Utara, saya merasa terpanggil untuk memperjuangkannya," ungkap pria yang juga berstatus sebagai dosen di STIE Graha Grana itu.

Alasan lain yang semakin menguatkan semangatnya untuk maju adalah keberadaan sosok Anies Baswedan. Dirinya menilai langkah Demokrat mengusung Annies Baswedan sebagai Calon Presiden adalah langkah tepat.

"Anies itu adalah tokoh pendidikan dikenal dengan gerakan Indonesia Mengajarnya. Dan ini tentu menambah semangat saya dalam menyuarakan perubahan di dunia pendidikan. Jika beliau menjadi presiden tentu ini akan berjalan selaras dengan apa yang menjadi misi saya nantinya," ungkap Pangeran.

Ditambah lagi jika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dipercaya menjadi pasangannya. Tentu bilang Pangeran akan menambah kesempurnaan jalannya roda pemerintahan.

"Kolaborasi semangat muda yang dimiliki AHY dan diperkuat ide cemerlang Anies Baswedan sudah tentu ini akan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya," ucap Pangeran.

Mampukah sang dosen melaju ke parlemen untuk menyuarakan hati rakyat serta menciptakan kesejahteraan para dosen SK Yayasan?

Pangeran yakin hal itu bisa dicapainya dengan landasan pikiran yang jernih dan tanpa embel-embel apapun.

Semoga saja, keinginan dan misi mulia Pangeran menebar senyum bagi para dosen SK Yayasan bisa terwujud dari ruang parlemen. (*)

Komentar

Loading...