Cerita Relawan KKMSB Sambangi Warga Terdampak, Asri Anas: Belajarlah dari Gempa Sulbar

banner 468x60
Bagikan:

TAPALANG BARAT– Peristiwa gempa bumi dengan magnitudo 6,2 Jumat (15/1/2021) dini hari, tentu teringat dalam sejarah dan terbayang jelas diingatan para korban gempa di Majene, Mamuju dan wilayah terdampak lainnya di Sulawesi Barat.

Kita tak bisa membayangkan, kurang dari 10 detik, bencana alam ini meluluhlantakan Kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Begitu pula pada wilayah Kabupaten Majene yang ikut terimbas.

Seketika, wilayah itu lumpuh. Bencana alam ini benar-benar menjadi pukulan berat, di tengah semua pihak menahan laju sebaran wabah pandemi Covid-19 yang telah menghantam sendi ekonomi bangsa.

Ya, semua terpanggil. Mengulurkan tangan, menaruh kepedulian akan urgensi pemulihan kondisi Sulawesi Barat. Membangun empati, menyelaraskan gotong-royong dalam bingkai kemanusiaan.

Keterpanggilan ini pun diwujudkan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (BPP KKMSB). Mereka bergerak memberikan bantuan. Memberikan semangat dan memotivasi warga untuk bangkit selepas bencana yang menimpa.

“Sampai saat ini kami masih terus bergerak. Menyasar pada titik-titik wilayah yang kerap tidak terjangkau. Alhamdulillah, semua lelah dalam perjalanan terbayarkan untu bisa memberikan bantuan untuk saudara-saudara kami yang terdampak,” tutur Ketua Tim Relawan BPP KKMSB Supriyadi Yusuf, saat singgah di Desa Ahu, Dusun Talahu Kecamatan Tapalang Barat, Jumat (28/1/2021).

Ditambahan Yusuf, tim relawan BPP KKMSB tetap memfokus diri pada pada pendistribusian paket bantuan di wilayah terpencil seperti di Tapalang dan Tapalang Barat. Sebaran paket bantuan dilakukan dengan mendatangi posko-posko pengungsian yang menyebar.

“Mayoritas warga meninggalkan permukimannya. Mereka mendiamin tenda-tenda pengungsian tidak jauh dari dusun yang didiami. Pada titik-titik itu, kami serahkan bantuan,” tutur Supriyadi Yusuf.

Relawan datang tidak hanya sekadar memberikan bantuan. Mereka berupaya membaur dan mendengarkan cerita-cerita korban yang terdampak khususnya anak-anak. “Beban yang dirasa memang berat, kita tentu berharap, pemulihan dampak gempa dan renovasi rumah warga segera dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah,” harapnya.

READ  Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono Ajak Petani Gunakan Pupuk Organik Hayati

Pernyataan yang sama disampaikan, Faisal Husain Moga. Mantan Ketua HIPMI yang ikut dalam rombongan relawan itu mengaku lega. Saat bantuan yang dibawa sampai ke tangan korban terdampak bencana.

“Alhamdulillah, hati rasanya lega. Bisa berkumpul dan berbagi cerita dengan saudara-saudara kita. Harapannya cuma satu, kondisi Sulbar kembali normal,” imbuh Faisal.

Mantan ketua Umum BPW HIPMI Sulbar tersebut juga menitipkan pesan kepada masyarakat Indonesia, untuk terus bersemangat, mengumpulkan donasi, memberikan bangtuan bagi korban bencana Sulbar.

“Ada beberapa daerah yang memang terpencil dan sulit terjangkau. Kami diuntungkan dengan anggota relawan yang mengetahui peta lokasi dan berpengalaman. Sehingga memudahkan. Sekali lagi, saya berharapa ayo ulurkan bantuan, Sulbar bangkit pasca bencana ini,” ucap Faisal.

Penyerahan paket bantuan di Desa Ahu Dusun Talahu dan sejumlah dusun lainnya di Kecamatan Tapalang Barat, benar-benar berarti untuk menyambung “nafas” para korban bencana.

Sebanyak 102 paket diserahkan. Dalam satu paket, berisi beras 5 Kg, kornet 3 kaleng, Indomie 10 bungkus, gula 2 kg. Lalu popok bayi, vitamin, selimut dan minyak kelapa sesuai dengan jumlah warga yang berdampak bencana.

Kepala Dusun Talahu dan warga setempat mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Tim Relawan BPP KKMSB. “Terima kasih atas kesediaannya. Mendatangi kami di wilayah yang sulit dijangkau untuk memberikan bantuan. Apa yang telah diberikan sangat berarti,” ucap salah satu warga.

Terpisah, Ketua Umum BPP KKMSB Muh. Asri Anas menuturkan, pendistribusian bantuan ke sejumlah daerah terus berlanjut. Ini sebagai upaya membantu Pemerintah Pusat dan Daerah dalam proses penanganan bencana.

“Semua sudah terdata. Insya Allah hari ini (29/1/2021) paket bantuan diserahkan kemalin Tim Relawan BPP KKMSB akan kembali ke wilayah Tapalang Barat dan sekitarnya,” terang Asri dalam keterangan tertulisnya.

READ  Minta Tak Ada Nepotisme dalam Pembagian Bansos di Babel, Senator Alex: Jangan Ada KKN!

Sejauh ini, sambung mantan Anggota DPD RI dua periode itu, BPP KKMSB telah menurunkan sekitar 35 relawan terhitung sejak hari pertama musibah gempa bumi terjadi. termasuk menyalurkan sekitar 3.000 paket di area pengungsian.

“Sebaran relawan terbagi dua tim. Ada di Majene dan ada tim yang di Mamuju. Semua bergerak dan terus memberikan laporan secara berkala,” terang pengusaha muda ini.

Sebelumnya, BPP KKMSB telah membagikan 500 paket bantuan, 500 paket sembako berupa 5 kg beras, gula 2 kg, minyak, terigu dan kebutuhan lainnya untuk warga pesisir akibat gempang menjadi prioritas. Relawan tak hanya sebatas datang dan membagikan sembako.

Untuk pengungusi pantai dari Lombang-lombang mendapatkan bantuan paket sekitar 300 paket. Sedangkan dua wilayah lainnya yakni wilayah Malundan dan Ulumanda Desa Sambabo telah disalurkan 200 paket bantuan.

Dalam kesempatan tersebut, Asri juga berharap, Pemerintah untuk kembali memastikan pemenuhan hak pengungsi perempuan dan anak. Pada situasi pascabencana, kebutuhan spesifik, pelayanan kesehatan, dan psikososial perempuan dan anak terdampak harus diperhatikan.

Pemerintah memiliki tugas dan fungsi koordinasi berupaya memastikan pelindungan perempuan dan anak di lokasi bencana menjadi tanggung jawab bersama.

“Kami menekankan prioritas penanganan dalam situasi bencana kepada perempuan dan anak. Bangunlah paradigma baru dalam penanganan bencana, yaitu perempuan dan anak harus diutamakan karena mereka adalah kelompok yang paling rentan dan mudah terguncang akibat bencana,” tutur Asri.

Melalui paradigma baru tersebut, lanjut Asri setiap penanganan bencana dapat mengutamakan perempuan dan anak untuk menghindari dampak buruk, seperti masalah kesehatan fisik maupun psikis.

“Upaya respons cepat yang dilakukan berupa peninjauan ke lapangan akan lebih bermanfaat. Ini untuk menilai kondisi perempuan dan anak terdampak. Dari gempa Sulbar kita belajar membangun paradigma baru penanganan bencana,” jelas Asri. (ijs/ful)

banner 300x250
Bagikan:

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *