Penangkapan Ramah Lingkungan, Perikanan Tuna di Indonesia Raih Sertifikasi MSC

Nelayan Indonesia saat menangkap tuna. (kendaripos)
Nelayan Indonesia saat menangkap tuna. (kendaripos)
banner 468x60
Bagikan:

Jakarta – Produk perikanan tuna sirip kuning dan cakalang Indonesia telah berhasil memenuhi standar pasar Amerika Serikat (USA) dan Eropa setelah resmi tersertifikasi oleh Marine Stewardship Council (MSC). MSC merupakan organisasi lingkungan hidup nirlaba yang menetapkan standar perikanan berkelanjutan di dunia.

Dalam upaya mendapatkan sertifikasi MSC, Plt Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) M. Zaini mengungkapkan, perlu 380 kapal penangkap ikan yang ramah lingkungan tersebar di kepulauan Indonesia, mulai dari Sulawesi Utara hingga ke Flores Timur dan Barat untuk mendapatkan 11.000 ton tuna sirip kuning dan cakalang.

“Adanya sertifikasi ini menunjukkan komitmen kita terhadap penangkapan tuna yang berkelanjutan di Indonesia pada dunia. Sebagai salah satu penghasil tuna terbesar di dunia, sangat vital bagi kita untuk mendukung proses perolehan sertifikasi ini melalui program perbaikan perikanan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (28/1/2021).

READ  Gempa M 5,1 Getarkan Pandeglang Banten, BMKG Sebut Tak Berpotensi Tsunami

Dengan adanya sertifkasi ini, ia yakin segala sektor perikanan bisa tumbuh secara berkelanjutan dengan jaminan mata pencaharian di masa mendatang.

Ini juga merupakan implementasi kerja sama antara KKP dan MSC yang menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi tentang penangkapan ikan yang berkelanjutan.

Penerimaan sertifikasi ini merupakan yang ketiga kalinya diraih Indonesia. Sebelumnya, November 2018, PT Citra Raja Ampat Canning (CRAC) yang meraih sertifikasi MSC. Kemudian pada Mei 2020, North Buru and Maluku Fair Trade Fishing Associations, Indonesian Handline Yellowfin Tuna disertifikasi dengan Standar MSC.

Dengan sertifikasi tersebut, Indonesia bisa memastikan penangkapan ikan untuk tetap berada pada tingkat praktik terbaik global berdasarkan pada pengelolaan stok yang baik. Perolehan ini menjadi komitmen yang harus tetap dijaga selama waktu lima tahun untuk mempertahankan sertifikatnya terkait dengan stok dan manajemen.

“Tentu saja dukungan seluruh stakeholder terkait pada perikanan tuna skala kecil menjadi hal yang sangat penting dalam mendorong percepatan proses menuju keberlajuntan. Indonesia bangga saat ini memiliki perikanan ketiga yang memenuhi standar keberlanjutan perikanan tertinggi,” imbuh Zaini.

Penilaian untuk mendapatkan sertifikasi MSC dilakukan secara independen oleh SAI Global. Selain itu diikuti dengan penilaian terperinci dan konsultasi para pihak oleh Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC), yakni sebuah badan yang bertanggung jawab atas 60% tangkapan tuna dunia. (Sdy/IJS)

banner 300x250
Bagikan:

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *